Jumat, 30 April 2010

Adil Saja Tidak Cukup

Untuk apa anda bekerja? Itu pertanyaan yang terkadang sulit untuk dijawab, karena banyak faktor yang menyebabkan orang untuk meredefinisi dan mencari argumentasi setiap jawaban yang bakal keluar dari mulutnya, atau setidaknya hinggap dibenaknya. Banyak hal yang melatarbelakangi niat seseorang dalam bekerja, jika mengikuti teori Maslow, mulai dari kebutuhan terendah seperti makan (dan kebutuhan fisiologis lainnya), status sosial sampai kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dan seringkali jawaban-jawaban yang keluar atas pertanyaan tadi, adalah realita yang melatarbelakangi kualitas pekerjaan seseorang.

Orang yang bekerja sekedar untuk mencari makan (baca: uang) akan selalu berorientasi pada seberapa banyak yang bisa didapat dan seberapa banyak pula tenaga dan pikiran yang harus diberikan. Jika sedikit bayarannya, maka sedikit pula yang dilakukan. Hal ini menjadi wajar karena tidak sedikit pula perusahaan yang mengukur prestasi dan menilai kinerja karyawannya dengan materi, sehingga secara tidak langsung membudayakan kerja berdasarkan materi. Namun satu hal yang patut direnungkan oleh setiap perusahaan, ini akibat dari bentuk kapitalisme yang membudaya, bahwa kepada yang membayar lebih tinggi, kepada merekalah seseorang akan memberikan loyalitasnya. Dan ini mesti menjadi pelajaran kenapa banyak orang kemudian beralih dan menggeser tempat duduknya dari satu gedung ke gedung lainnya.

Oleh karenanya, prinsip the right man on the right place saja tidak cukup, mesti ditambah in the right time. Seseorang yang profesional akan merasa bukan waktunya lagi berada di tempat yang meski tepat, tetapi ruang dan kesempatannya untuk mengaktualisasikan dirinya semakin sempit. Bisa jadi ia masih dibutuhkan ditempatnya bekerja karena mungkin sangat jarang menemukan SDM bermutu sepertinya, tetapi jika kemudian ia merasa mendapatkan kesempatan dan ruang baru baginya untuk lebih banyak berbuat, itulah yang dicarinya. Dan biasanya, jika sudah demikian, orang-orang seperti ini tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang. Baginya, kesempatan seringkali tidak datang dua kali.

Lain halnya dengan orang-orang yang bekerja berlatarbelakang materi, jika tak sesuai materi yang didapat, maka pilihannya cuma dua, keluar dari perusahaan atau bekerja dibawah standard. Kalaupun akhirnya dia pindah dan mendapat pekerjaan baru, jika tak merubah cara pandangnya terhadap pekerjaan yang juga merupakan amanah, maka tak heran jika di tengah jalan, orang-orang seperti ini akan melemah kembali, dan bekerja pun kembali seusai dengan typenya, tergantung bayaran.

Orang yang bekerja dibawah standard dari yang seharusnya dikerjakan, padahal ia digaji dengan standard yang sudah disesuaikan dengan apa yang menjadi kewajibannya, adalah orang yang zhalim. Dan semestinya, seorang mukmin tidak memiliki mental dan karakter demikian. Bahkan adil saja tidak cukup. Orang yang bekerja sesuai dengan standard dan memenuhi semua kewajibannya, adalah orang yang bersikap adil. Dan ia tidak berdosa dengan keadilan yang sudah dipenuhinya. Namun saat ini, ada trend baru orang-orang dalam bekerja, yakni bekerja lebih dari waktu, standard dan kewajiban yang semestinya dilakukan. Yang demikian, sungguh telah berbuat Ihsan.

Aktualisasi diri, tingkatan tertinggi kebutuhan hidup manusia menurut Maslow, dalam kamus Islam adalah Ihsan. Tak mempedulikan berapa banyak ia dibayar, tetapi karena ia memandang pekerjaan sebagai satu bentuk dari ibadah dan penghambaan kepada Allah, maka seperti halnya ibadah-ibadah yang lain, maka dalam bekerja pun orientasinya tidak materi semata. Baginya pekerjaan adalah amanah dan ia mesti memelihara amanah tersebut sebaik-baiknya, bahkan meski untuk melakukan amanah tersebut, sedikit apresiasi yang didapatnya. Tidak ada kamus kecewa, karena baginya, selesai melaksanakan kewajibannya dan bahkan lebih baik dari target waktu dan standard semestinya adalah kepuasan tersendiri.

Kepada Rasulullah, Jibril pernah bertanya tentang Ihsan, dan Rasulullah mengatakan, “... Kamu beribadah kepada Allah seolah kamu melihat Allah, walaupun kamu tidak bisa melihat Allah, sesungguhnya Allah melihat kamu”. Orang-orang yang berbuat Ihsan, tidak mempedulikan atasannya melihat atau tidak pekerjaannya, karena ia teramat yakin dengan ketentuan Allah tentang balasan berbuat Ihsan. Jika bukan manusia yang memberikan apresiasi karena tak mengetahui pekerjaannya, Allah-lah yang akan memberikan penghargaan. Adakah yang lebih baik dari penghargaan Allah? Wallaahu ‘a’lam bishshowaab. (Bayu Gaw)



sumber : eramuslim

Ada Apa Dengan Kita?

Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan.

Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?

Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.

Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?

Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita.

Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman.

Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita? Wallahu a'lam bishshowaab. (Bayu Gautama)

sumber : eramuslim

Kamis, 29 April 2010

Hukuman Mati

Rabu malam, jam telah menunjukkan pukul 18.30 ketika saya merebahkan badan untuk melepas rasa penat dan letih setelah seharian bergelut dengan aktifitas kantor yang lumayan membuat pusing… seperti orang dahaga ketika kerongkongannya dilewati teggukan pertama air murni, begitu tinggi kepuasan yang di dapatnya..Seperti itulah yang saya rasakan ketika pertama kali merebahkan badan. Bayangkan bagaimana ketika otot leher yang kejang karena selama 12 jam mengamati monitor, bayangkan bagaimana bokong yang panas karena selama 12 jam duduk di kantor, bayangkan mata yang lelah karena selama 12 jam lebih banyak terfokus pada monitor…. bayangkan juga bagaimana perut yang belum terisi sejak siang….Semua itu menguap entah kemana-seperti embun terkena sinar matahari, berganti dengan suasana santai dan rileks…

Suara televisi yang sejak tadi menyiarkan acara “debat” menarik perhatian saya untuk mengikutinya. Debat malam itu bertemakan ”Pro Kontra Hukuman Mati Bagi Koruptor”. Sebuah tema yang menarik di tengah maraknya isu pemberantasan korupsi di negeri ini..Menampilkan dua orang tokoh yang selama ini sering muncul di layar kaca..masing-masing mewakili pihak pro hukuman mati dan yang kontra hukuman mati bagi para koruptor…

Sepintas memang tidak ada yang spesial dari tema acara debat tersebut, tapi yang menarik adalah pendapat dari tokoh-tokoh yang mewakili pihak yang kontra terhadap hukuman mati terhadap para koruptor tersebut….Mereka mengatakan bahwa tidak perlu adanya hukuman mati bagi para koruptor dengan argumen bahwa hal itu tidak akan menimbulkan efek jera dan belum ada landasan hukumnya serta melanggar HAM, sambil menggunakan analogi antara pencopet jalanan dengan koruptor… Aneh, karena mereka yang selama ini muncul di berbagai media menyuarakan pemberatasan korupsi setuntas-tuntasnya dan berpendapat bahwa korupsi itu merupakan kejahatan yang luar biasa sehingga di butuhkan upaya yang luar biasa dan juga untuk memberantasnya tentu dengan hukuman yang luar biasa juga….kok sekarang mereka malah tidak setuju dengan pemberlakuan hukuman mati bagi para koruptor..???

Dimana idealisme mereka tentang pemberantasan korupsi ketika mencuatnya isu cicak vs buaya…??? dimana idealisme mereka ketika mengerahkan ribuan massa untuk mendorong upaya pemberantas korupsi…??? Dimana idealisme mereka ketika mereka mengatakan bahwa perbuatan korupsi yang terjadi selama ini telah menyengsarakan rakyat, yang notabene merupakan hak asasi sebagai warga negara untuk mendapatkan kehidupan yang adil dan makmur…???

Jadi, memang benarlah kalau ada ungkapan bahwa Orang-orang yang selama ini mengagungkan idelisme,akan hilang idealismenya ketika berada dalam suatu sistem yang tidak ideal, IDEnya tenggelam semua di telan oleh tradisi sesat yang telah ada sebelumnya, hanya ALISnya yang naik-turun….

Hehehehehehehehehe…..

:D

Susah di Tebak

Siang tadi psi ku berkedip-kedip, menandakan ada pesan yang masuk. setelah saya buka, ternyata ada cerita yang dikirim oleh teman kantor yang menceritakan bagaimana susahnya menebak perasaan wanita…yang ngirim itu bukan laki-laki loh, tapi perempuan…mungkin dari cerita itu dia ingin mengesahkan kalau memang benar wanita itu susah di tebak keinginannya…

berikut isi pesannya…

[3:52:46] WANITA SUSAH DI TEBAK

Jika dikatakan cantik dikira menggoda, jika dibilang jelek di sangka menghina.

Bila dibilang lemah dia protes, bila dibilang perkasa dia nangis.

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak (sambil ngomel “masa disamakan dengan cowok?”).
Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut (sambil ngomel, “egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan!”)

Jika di tanyakan siapa yang paling dibanggakan, kebanyakan bilang Ibunya, tapi kenapa yah lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga.

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah..
Bila di ajari mukanya merah..
Bila di sanjung mukanya merah,
jika marah mukanya merah, kok sama semua?
Bingung
Ditanya ya atau tidak, jawabnya: diam,
ditanya tidak atau ya, jawabnya: diam,
ditanya ya atau ya, jawabnya: diam,
ditanya tidak atau tidak, jawabnya: diam,
ketika didiamkan malah marah (repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah,
dibilang berisik ngambek,
dibilang banyak mulut tersinggung,
tapi kalau dibilang S u p e l wadow seneng banget..
padahal sama saja maksudnya.
Dibilang gemuk, enggak senang padahal maksud kita sehat gitu lho,
dibilang kurus malah senang padahal maksud kita “kenapa loe jadi begini??!!!”

[3:55:47] :D